Ison

Orang gila..
Ada yang takut dengan orang gila?
Aku termasuk orang yang takut dengan orang gila, apalagi orang gila adalah “kata sakti” yang menjadi jurus andalan ibu untuk menakutiku waktu aku kecil.
“Jangan main jauh-jauh, nanti diculik orang gila”
Atau
“Ayo makan! Nanti kalau ga mau makan ditangkap orang gila”

Aku pun punya sebuah kisah tentang orang dengan gangguan jiwa di kampungku, kami memanggilnya Ison.

***

image

Sumber gambar: Google

Awas ada Ison!!! teriak anak-anak sekolah dasar sambil berlari sekencang-kencangnya atau melemparinya dengan batu kerikil. Ison juga sering mengejar atau memukul anak-anak yang mengganggunya. Aku memilih mengambil jalan lain atau berputar arah daripada harus berpapasan dengan Ison. Aku sangat takut apalagi setelah mendengar cerita temanku yang rambutnya dijambak oleh Ison. Ison selalu memakai kemeja dan celana panjang serta tali pinggang dari tali rafia, rambutnya selalu awut-awutan kalau berjalan dia selalu memasukan satu tangannya ke dalam saku celana. Kadang Ison suka menggoda wanita dewasa dengan mengedipkan mata atau tersenyum memamerkan deretan gigi kuningnya dan meminta-minta rokok kepada siapapun yang ditemuinya.

Dulu warga kampung masih bergotong royong mengurusi Ison. Mencukur rambutnya atau memandikan Ison dan memberikan kemeja yang disukai Ison. Warga di kampungku juga sering memberi sesuatu pada Ison misalnya Pakde Kasio sering memberikan Ison rokok kalau Ison melintas di depan warungnya atau Lek Inem yang hampir setiap pagi membungkuskan pisang goreng untuk diberikan pada Ison dan Bude Wito yang memberikan sebuah lontong ketika Ison lewat. Mungkin mereka iba kepada Ison atau hanya tak mau Ison berdiri berlama-lama di depan warung mereka dan membuat risih pelanggan mereka.

Ison suka jalan tak tentu arah sampai belasan kilo meter. Sepulang sekolah aku sering melihatnya di trotoar pusat kota. Hari lainnya Ison tertidur di emperan toko yang tutup atau tiba-tiba pagi-pagi aku berpapasan dengan Ison di gang rumahku “Dua ribu yuk, buat rokok” Ison menjulurkan tangannya  kalau tak diberi uang Ison akan berteriak-teriak. Dengan gemetar aku mengeluarkan lembaran dua ribu kemudian mempercepat langkahku menuju halte bus.

Menurut cerita orang tua di kampungku Ison sebenarnya adalah anak dari keluarga kaya. Dulu ayahnya memiliki harta yang cukup banyak tapi kemudian ayahnya sakit-sakitan lalu meninggal serta usaha keluarganya bangkrut. Ison muda tidak bisa menerima kenyataan kemudian mengalami depresi. Mungkin karena penanganannya kurang tepat gangguan jiwanya semakin parah. Kabar yang terakhir kudengar Ison dibuatkan rumah oleh saudaranya yang masih tersisa supaya dia tidak berkeliaran dan mengganggu warga lagi.

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diselenggarakan Liza Fathia dan Si Tunis

image