Bangi Nihan

Dalam bahasa Lampung, bangi nihan artinya enak banget. Ngomongin soal yang enak pasti ga jauh dari yang namanya makanan. Di kota gue Bandar Lampung, banyak makanan enak tapi yang paling gue suka ya jajanan kaki limanya. Kenapa? Ya karena enak, murah dan ada dimana-mana jhajaja.

Tantangan dari Advencious (silahkan kepoin blognya *tapi setelah baca postingan ini* jhajaja) untuk nyeritain 5 jajanan favorit, membuat gue susah payah memilih jajanan yang terbaik. Karena masalahnya banyak banget yang jadi favorit gue yang pada dasarnya suka makan hohoho. Baiklah setelah menimbang-nimbang dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, inilah jajan pas di lidah, hati dan kantong. Yuk mari kita simak.

1. Mie Ipin
Mie Ipin adalah mie yang disajikan dengan 2 pilihan, rebus atau goreng. Nama Ipin sendiri diambil dari sang koki sekaligus pemiliknya Om Ipin. Yang khas dari mie ipin ini adalah bentuk mienya yang besar-besar, udang keringnya yang buanyak dan bumbunya yang bikin kangen pengen dateng lagi. Mienya dibuat sendiri oleh pemiliknya jadi dijamin aman, sehat dan halal hohoho. Warung tenda Mie Ipin berada di Jl. P. Diponegoro depan JNE dan bukanya dari jam 18.30 Wib sampai jam 22.00 Wib. Harga per porsinya cukup Rp. 14.000,- saja. Saran gue kalo makan mie disini harus ekstra sabar karena rame banget. Kadang-kadang ga dapet tempat duduk jadi harus lesehan di depan JNE (tapi sekarang ga boleh lesehan lagi dari cerita pemilik warung saking ramenya kadang-kadang ada yang ga bayar lho pesen mie-makan-melipir kabur). Oh iya Om Ipin dan Mbak Lis ini tetangganya kakak gue hohoho, orangnya ramah sekali dengan pelanggan. Jadi warung tenda Mie Ipin ini high recommended.

image

2. Batagor kuah
Siapa yang suka batagor ayo tangannya ngacung. Batagor favorit gue ada di depan Stadion Pahoman. Bagi yang suka olahraga di Stadion Pahoman ini pasti ga asing lagi. Apa yang istimewa dari batagor satu ini? Jawabannya adalah kuahnya. Kuah dari batagornya ada irisan daging sapi tipis yang banyak dan rasa kaldunya wuih enak banget langkap dengan kacang kedelai gorengnya. Harga per porsinya Rp. 10.000,- murah kan. Buka dari jam 09.00 Wib sampe abis hahaha. Jangan dateng sore-sore karena cepet banget abisnya. Penjualnya hebat banget lho, walaupun pembelinya bejibun tapi pesenannya ga pernah lupa. Kadang-kadang pengen ngelamar kerja part time disitu karena kasian liat mbaknya kerepotan dikelilingi pelanggan hehehe.

image

sumber gambar : google

3. Burger Noname
Wah kalo yang ini legend banget. Anak gaul di Bandar Lampung yang belum pernah makan disini akan diragukan kegaulannya (?). Burger yang terletak di depan Mall Kartini ini ga pernah sepi. Selalu rame kayak lagi ngantri sembako. Disini menunya banyak pilihan, isian burgernya mulai dari yang single sampe double. Selain burger ada pisang bakar dan roti juga tapi tetep burgerlah primadonanya. Buka setiap pukul 18.00 Wib. Harganya mulai Rp. 8.000,- gimana? Murah kan?.

image

4. Sop durian
Bagi pecinta raja buah, jajanan satu ini patut dicobain. Sop durian. Dari semua sop durian yang mampir di lidah gue, yang paling enak adalah sop durian di depan kantor pos samping Universitas Bandar Lampung. Ini jadi jajanan favorit sejak beberapa tahun yang lalu. Dengan harga Rp. 20.000,- kamu bisa dapet semangkuk sop durian dengan susu dan keju yang berlimpah ruah. Wah pokoknya kalo makan disini sampe lupa jam istirahat udah abis hohoho. Tapi ya perlu diinget, dimana ada makanan enak disitu manusia berkumpul. Jadi gue saranin jangan dateng pas jam makan siang, dijamin ga kebagian tempat duduk. Sop durian ini buka dari jam 08.00 Wib dan biasanya udah abis jam 14.00 Wib jangan telat ya. Pemiliknya ramah banget ibunya jual soto sedangkan bapaknya jual sop durian dan yang bikin betah nunggu itu ngeliatin anaknya yang lucu banget kalo lagi bantuin ngelayanin mbak-mbak mahasiswi.

image

sumber gambar : google

5. Somay
Sebagai orang yang ngga terlalu suka makan ikan, gue termasuk berhati-hati kalo memilih makanan olahan dari ikan. Termasuk memilih somay. Gue pernah muntah karena somay yang dibeliin teman gue baunya amis banget. Nah tapi ada somay yang klop di jiwa dan raga gue (lebay). Somay ini letaknya disamping bapak sop durian tadi. Yang istimewa dari somay ini adalah baunya ngga amis, bumbunya enak banget dan ikannya selalu segar. Dulu waktu masih kerja di daerah Kedaton, somay ini sering jadi oleh-oleh buat orang rumah. Sekarang udah jarang beli karena tempatnya jauh dan kalo datang sore selalu keabisan karena laris manis. Harganya cuma Rp. 1000,- per potong wuih murah sekali. Gue biasa beli 40 potong untuk dibawa pulang. Disini kesabaran adalah kunci utamanya, karena harganya yang murah dan rasanya yang enak ngga heran kalo somay satu ini diburu. Ingat kesabaran selalu berbuah somay (lho?).

image

sumber gambar : google

Eits, gimana? Enak kan? Sudah mulai lapar?

Itulah 5 jajanan kaki lima favorit yang sering gue datangi setiap akhir pekan, waktu luang dan abis gajian hahahaa. Perlu diketahui nih buat teman-teman semua, makanan enak ga harus di tempat mewah dan mahal. Banyak kok makanan murah dan berkualitas seperti yang gue sebutkan diatas tadi yang rasanya ngga kalah dengan makanan di restoran-restoran. Selamat makan dan selamat berakhir pekan teman-teman.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Advencious dan Jengsri first giveaway”

Tik Tok.. Eight days before I die

image

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.  Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran : 185)

Seperti yang kita tahu kematian itu adalah hal yang pasti dan tak kan terhindarkan. Semua yang hidup pasti akan mengalami kematian. Bahkan hari kematian pun sudah di tuliskan oleh Allah. Jika tiba-tiba Allah mengabarkan bahwa nafasku, denyut nadiku, detak jantungku dan hidupku akan berakhir dalam delapan hari lagi. Inilah waktunya. Aku akan menerima semua ketentuan-Nya dengan ikhlas. Walaupun rasanya air mata ini tak mau berhenti mengalir. Aku akan berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diri sendiri dan…

Ibadah
Sebagai hamba Allah, aku harus mempersiapkan bekal untuk di akhirat karena kehidupan tak berakhir setelah kematian. Delapan hari, delapan minggu, delapan bulan atau bahkan delapan puluh tahun juga tak kan cukup untuk beribadah. Tapi setidaknya di delapan hari terakhir ini aku akan beribadah dengan sungguh-sungguh.

:: Shalat 5 waktu
Selama ini aku kadang-kadang lalai dalam shalat. Banyak waktu-waktu yang terlewatkan. Di sisa hari ini akan ku perbaiki semua waktu-waktu yang dulu ku sia-siakan.

:: Khatam Al-quran
Sebenarnya agak malu untuk mengakuinya. Aku sudah mengkhatamkan puluhan jenis novel di rak buku, tapi untuk membaca Al-quran 3 lembar sehari saja kadang-kadang banyak malasnya. Delapan hari ini akan ku nikmati dengan lantunan ayat suci Al-quran.

:: Kuras tabungan
Harta tak dibawa mati bukan, jadi aku akan menguras semua isi tabunganku walaupun tak banyak tapi semoga bisa bermanfaat. Aku ingin hartaku disedekahkan kepada orang-orang yang kehidupannya kurang beruntung dan kepada anak-anak yatim.

Tali-tali perjalanan
Impianku sebelum mati adalah mengunjungi kota tua di Republik Ceko. Praha, si cantik dari Eropa Timur. Kota yang menyajikan sisa-sisa peradaban masa lalu dengan arsitekturnya yang menawan. Tapi mimpi tinggalah mimpi. Delapan hari yang tersisa tak kan cukup mewujudkannya. Bahkan untuk berburu tiket dan mengurus surat-suratnya pun tak kan cukup. Inilah takdirnya, old town kuganti dengan old friends. Delapan hari rasanya cukup untuk bersilaturahmi ke rumah-rumah saudara dan teman lama yang selama ini jarang berkirim kabar atau sekedar menyapa. Menjalin kembali tali-tali silaturahmi, mendekatkan yang jauh, merapatkan yang renggang, memperbaiki yang rusak.

Puaskan penasaran pada makanan
Selama ini banyak makanan yang membuat aku bertanya-tanya. Bagaimana rasanya makan gurita hidup? Atau, Apakah rasa bekicot sawah sama dengan bekicot Prancis? Atau, Benarkah daging unta sedap? Atau, Apakah Whiskas itu enak?. Delapan hari terakhir harus bisa membayar semua tanya di kepala ku tentang macam-macam makanan. Aku akan mencoba makanan yang tak pernah kumakan sebelumnya dan berusaha untuk tidak muntah kalau rasanya tak berkenan.

Bebaskan semua beban
Aku ingin beristirahat dengan damai sedamai-damainya. Maka sebelum semuanya terlambat aku akan membebaskan semua bebanku di dunia ini. Membayar semua hutangku termasuk hutang di warung atau hutang kepada teman yang timbul karena kalimat “pake uang kamu dulu ya”. Menepati janji yang pernah ku buat kecuali satu “tetap bersamamu” karena aku harus pergi lebih dulu, tapi percayalah aku akan tetap bersama kalian di alam manapun aku berada. Meminta maaf pada setiap hati yang pernah tergores oleh ketidaksengajaanku dan terluka oleh khilafku. Memaafkan untuk setiap goresan dalam hatiku. Menyatakan cinta terpendamku, mmm… yah setidaknya aku tak ingin mati penasaran hehehe.

Kepergianku takkan terlalu menyakitkan
Hidup tak dibangun oleh diri sendiri, tapi oleh keberadaan orang-orang di sekitar kita. Rasa kehilangan lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri. Aku pernah merasakan rindu pada orang yang sudah meninggal dunia. Sakit. Sebelum diri ini pergi meninggalkan dunia, sebelum suaraku berhenti menggema, sebelum bayangan ini memudar, sebelum benar-benar tiada aku berusaha agar kepergianku takkan terasa terlalu menyakitkan. Aku ingin membuat foto keluarga, foto dengan sahabat, selfie, membuat video dokumenter dan menulis surat-surat kecil yang aku selipkan di sudut-sudut rumah. Semua itu kupersembahkan untuk orang-orang yang menyayangiku, agar aku tetap hidup dalam kenangan.

Tetap berdetak
Sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna untuk manusia lain. Jika aku mati tidaklah berharga tubuh ini selain akan hancur bersama tanah. Aku ingin mendonorkan organ tubuhku kepada mereka yang sepanjang hidupnya terus berjuang dalam sakit. Setidaknya setelah tiada, jantungku tetap berdetak.

Kain kafan
Agak mengerikan melakukannya sendiri tapi aku tak ingin terlalu merepotkan orang lain. Aku akan membeli kain kafanku dan merapikannya sehingga siap dipakai jika harinya tiba.

Itulah beberapa hal yang ingin aku lakukan sebelum ajal menjemput. Namun sesungguhnya jodoh, rezeki, maut dan semuanya itu Allah yang menentukan dan tetap menjadi rahasia-Nya. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani ketentuannya. Hal-hal tersebut sebenarnya bisa kita lakukan mulai dari hari ini tak perlu menunggu kepastian tanggal kematian.

“Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway” 

image

– Terima kasih mbak Desi, tantangannya cukup menamparku bahwa selama ini aku telah lalai dalam mempersiapkan bekal kematian –

Pahlawan Jalanan

Helo eferibodieh..
Apa kabar? Udah punya pacar?

Hari ini gue mau cerita kejadian mengharukan yang barusan gue alamin, masih anget ceritanya. Yuk simak mudah-mudahan bermanfaat :).

Senin tanggal 07 Maret sekitar pukul 16.00 Wib (rasa tengah hari) gue bermotor-motor ria di tengah matahari 🌞 yang panasnya ngelebihin tamparan guru sejarah gue waktu SMP 😫 . Kalo nggak perlu banget mendingan gue mangap depan kipas angin aja, tapi karena ini urusan hidup dan mati harus ngambil berkas yang ketinggalan di kantor Ria yaudah mau gimana lagi. Sampe di bundaran Adipura ternyata lampu merah dan gue berhenti di garis merah khusus untuk pengendara sepeda motor🚦 . Ngga lama dari itu ada Bapak2 dengan motor bebek sederhana berhenti di samping gue. Keliatannya dari seragamnya sih kayak Guru dan beliau bonceng anaknya yang masih SMA. Tiba2 beliau turun dari motor terus jongkok di samping motornya. Tadinya gue ngga ngeh beliau lagi ngapain, gue kira ada barang bawaannya yang jatuh. Waktu gue perhatiin lagi ternyata beliau mungutin sesuatu.

“Pak, Bapak ngambil apa?” tanya gue ke Bapak itu
“Ini mbak ngambilin paku” kata beliau sambil nunjukin segenggam paku
Astaga! 😱 Gue langsung tengok kanan kiri dan ngeliat paku2 kecil bertebaran di sepanjang jalur sepeda motor, ga tau sih yang dibelakang gimana ngga sempet ngeliat. Refleks gue ambil paku di sekitar ban motor gue.
“Awas mbak, hati2” beliau nunjuk paku kecil di ban depan motor gue.
“Iya pak, terima kasih”

Kira2 darimana paku2 ini? Paku kan bukan benda yang biasa turun dari langit. Iseng banget orang2 yang suka tebar paku di jalanan. Mending tebar benih tanaman di kebon kan lebih menguntungkan atau tebar pesona sana biar ga jomblo lagi. Lampu berganti warna hijau, Bapak itu ngasih segenggam paku ke tangan anaknya untuk dibuang ke tempat yang seharusnya. Gue berjalan di belakang Bapak itu sampe berpisah di pertigaan Enggal. Sepanjang jalan gue kepikiran beliau terus. Ternyata masih ada orang yang rasa empatinya sangat tinggi, masih ada pahlawan jalanan. Mungkin yang dilakukan Bapak itu sederhana tapi manfaat yang ditimbulkan luar biasa. Mudah2an beliau sehat selalu, amin.

Oiya, no picture = hoax
Maaf sekali gue ngga sempat ambil foto beliau karena hape gue di dalem tas, repot mau ngeluarin hape di lampu merah. Dan lagi gue agak sungkan dengan beliau kalo gue ambil fotonya tanpa izin. Kan ada lho orang2 yang berbuat kebaikan dan tidak mengharapkan apapun termasuk publikasi. Tapi percayalah ini kisah nyata bukan kisah fiktif Ftv atau khayalan otak gue. Percayalah akan kebaikan kecil di sekitar kita.

Kota yang nyaman adalah tanggung jawab penghuninya, termasuk pemerintah daerah, masyarakat, aku dan kamu. Yuk terus berbuat baik.

Ilustrasi Tugu Adipura Bandar Lampung

image

sumber gambar : google

image

sumber gambar: google

Ison

Orang gila..
Ada yang takut dengan orang gila?
Aku termasuk orang yang takut dengan orang gila, apalagi orang gila adalah “kata sakti” yang menjadi jurus andalan ibu untuk menakutiku waktu aku kecil.
“Jangan main jauh-jauh, nanti diculik orang gila”
Atau
“Ayo makan! Nanti kalau ga mau makan ditangkap orang gila”

Aku pun punya sebuah kisah tentang orang dengan gangguan jiwa di kampungku, kami memanggilnya Ison.

***

image

Sumber gambar: Google

Awas ada Ison!!! teriak anak-anak sekolah dasar sambil berlari sekencang-kencangnya atau melemparinya dengan batu kerikil. Ison juga sering mengejar atau memukul anak-anak yang mengganggunya. Aku memilih mengambil jalan lain atau berputar arah daripada harus berpapasan dengan Ison. Aku sangat takut apalagi setelah mendengar cerita temanku yang rambutnya dijambak oleh Ison. Ison selalu memakai kemeja dan celana panjang serta tali pinggang dari tali rafia, rambutnya selalu awut-awutan kalau berjalan dia selalu memasukan satu tangannya ke dalam saku celana. Kadang Ison suka menggoda wanita dewasa dengan mengedipkan mata atau tersenyum memamerkan deretan gigi kuningnya dan meminta-minta rokok kepada siapapun yang ditemuinya.

Dulu warga kampung masih bergotong royong mengurusi Ison. Mencukur rambutnya atau memandikan Ison dan memberikan kemeja yang disukai Ison. Warga di kampungku juga sering memberi sesuatu pada Ison misalnya Pakde Kasio sering memberikan Ison rokok kalau Ison melintas di depan warungnya atau Lek Inem yang hampir setiap pagi membungkuskan pisang goreng untuk diberikan pada Ison dan Bude Wito yang memberikan sebuah lontong ketika Ison lewat. Mungkin mereka iba kepada Ison atau hanya tak mau Ison berdiri berlama-lama di depan warung mereka dan membuat risih pelanggan mereka.

Ison suka jalan tak tentu arah sampai belasan kilo meter. Sepulang sekolah aku sering melihatnya di trotoar pusat kota. Hari lainnya Ison tertidur di emperan toko yang tutup atau tiba-tiba pagi-pagi aku berpapasan dengan Ison di gang rumahku “Dua ribu yuk, buat rokok” Ison menjulurkan tangannya  kalau tak diberi uang Ison akan berteriak-teriak. Dengan gemetar aku mengeluarkan lembaran dua ribu kemudian mempercepat langkahku menuju halte bus.

Menurut cerita orang tua di kampungku Ison sebenarnya adalah anak dari keluarga kaya. Dulu ayahnya memiliki harta yang cukup banyak tapi kemudian ayahnya sakit-sakitan lalu meninggal serta usaha keluarganya bangkrut. Ison muda tidak bisa menerima kenyataan kemudian mengalami depresi. Mungkin karena penanganannya kurang tepat gangguan jiwanya semakin parah. Kabar yang terakhir kudengar Ison dibuatkan rumah oleh saudaranya yang masih tersisa supaya dia tidak berkeliaran dan mengganggu warga lagi.

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diselenggarakan Liza Fathia dan Si Tunis

image

#FFmalamminggu: Bunga yang layu

image

Pagi ini aku menyiram tanaman di halaman depan rumah kakak ku ‘hei lihatlah bunga-bunga ini layu’ kurang perhatian dari pemilik rumah. Dari balik pagar kulihat seorang pria dengan seragam kebesaran kepolisian keluar dari pintu coklat itu. Wah siapa ya? Kok aku belum pernah lihat, sepertinya tetangga baru. Polisi muda itu merapikan seragamnya di depan jendela kaca ‘Aaah tampan sekali’. Sepertinya aku harus sering-sering menginap di rumah kakak atau aku pindah saja kemari, lagipula lebih dekat dengan tempat kerja ku dan bisa pedekate dengan Pak Polisi.

Ketika aku tenggelam dalam khayalanku Pak Polisi menyalakan motornya dan “Bun.. ayah berangkat dulu ya”. Apa? Bunda? Ayah? Apa aku tak salah dengar?. Dari pintu coklat itu juga keluar wanita dengan setelan merah muda “Ayah hati-hati ya, nanti siang Bunda ada acara bareng Ibu-ibu Bhayangkari di daerah x”. Wanita itu menyalami tangan Pak Polisi, semakin menegaskan hubungan diantara mereka. Pak Polisi melajukan motornya keluar komplek perumahan. Aku masih terpaku karena adegan barusan, kulihat bunga-bunga yang tadi kusiram telah mekar dan segar. Kini giliran aku yang menjadi layu.

Kondangan jarak jauh #hwdbubos

Ini namanya LDK (long distance kondanganship) alias kondangan jarak jauh. Bandar Lampung – Bukit Kemuning 4 jam perjalanan mending gue kirim kurir JNE dah buat wakilin gue kondangan. Tapi berhubung yang nikah adalah saingan minum susu 1 liter, yang nikah pernah numpangin gue mandi di rumahnya, yang nikah pernah ngasih masker bengkoang, yang nikah rela ga pake kipas angin seharian waktu gue sakit, yang nikah sering jadi pahlawan di akhir bulan, yang nikah adalah Bu Bos tercinta. Jadi gue harus dateng, ga boleh ijin, ngasih surat sakit apalagi titip absen.

Janji ketemu jam 7 WIM (waktu Indonesia bagian melar) itu janji apa tali kolor?. Janji jam 7 berangkat jam 9 mereka dandannya lama banget. Kami berangkat ber-delapan kalo ga diitung dobel sizenya. Dengan formasi 2-4-2 Kak Epan di kursi kemudi, Kak Budut jadi navigator (masih diragukan, jalan doi menuju jodohnya aja belum ditemukan sampe saat ini), Rangga, Hera dan Kak Robby memenuhi kursi tengah (ya ngerti lah yang bikin penuh siapa), Kak Iyan dan Ndin beserta barang bawaan nyantai dikursi belakang. Gue? gue mah dimana aja yang penting direstuin orang tua percuma nyaman kalo ga direstuin (eh? bawaan gerimis jadi baper). Kak Budut uring-uringan sepanjang jalan ternyata dia kesel karena Kak Benk2 ga mau ikut, huh gue kira doi lagi PMS hampir aja gue paksa nenggak kiranti.

Perjalanannya… biasa aja. Kalo ga mikiran hair buns yang udah susah payah gue buat mah mendingan sepanjang jalan gue tidur aja secara ya kanan kiri gue matras. Jam 1 siang kami sampe di rumah mbak Ria dengan acak2an. Efek wax udah ilang dan rambut kriting Rangga mulai muncul ke permukaan, baju kami udah kusut, wangi parfum nguap, make up luntur dan berat badan Ndin nambah 2 kilo.

Sambil nunggu mbak Ria akad kami istirahat di mushola samping rumah mbak Ria. Baru masuk mushola langsung tepar semua.

image

Setelah akad kami bisa ketemu mbak Ria, wih cantik euy baru ini liat mbak Ria full make up. Biasanya mah cuma bedakan pake tepung beras hehehe.

image

image

Selamat berbahagia mbak Ria dan kak Ronald. Semoga pernikahan kalian dirahmati Allah dan didoakan berjuta malaikat. Semoga kalian menuju keluarga sakinah mawadah warahmah sampai ke jannah.

Karena takut kemaleman pulangnya jam 3 sore kami pamit. Eh tiba2 ditawarin makan (lagi), waduh mendadak galau. Kami saling pandang dengan tatapan penuh arti “makan aja yuk!”, “perjalanan kita 4 jam lho”, “malu tadi kan udah makan”, “yaaa kalo gue sih ngikut aja”, “petenya masih ada ga ya?”, “gue ga mau busung lapar di jalan”, “gimana kalo bungkus aja?”, “lo pikir ini warung tegal?”, “tahan aja.. jomblo bertahun2 aja kuat laper 4 jam masa ga kuat” (tatapan terakhir memang agak menyakitkan). Akhirnya kami pamit pulang tanpa makan lagi.

image

Selama di mobil kami kelaperan huhuhu. Setelah melewati jutaan tempat makan kami memutuskan makan bakso di daerah Terbanggi Besar (jaraknya 2 jam setelah kata “gue laper” pertama diucapkan). Sebenernya perasaan gue rada ga enak sama tempat makan ini, sampe mangkok baksonya dateng…

image

Apa maksud semua ini? Mentang2 gue single dikasih baksonya cuma satu. Temen2 yang lain pada makan dengan lahap. Karena terlalu baper baksonya ga gue abisin, gimana ya berasa ngiris hati sendiri sih.

Perjalanan berlanjut dan kami sampe di rumah kak Epan jam 8 malem rasanya capek banget. Hera dianter pulang sama kak Budut eh jangan bilang2 ya Ndin cemburu lho karena biasanya ini jadwal nonton bareng Ndin dan kak Budut jhajajaja. Gue juga masih harus pulang ke rumah sendiri, sampe rumah jam setengah 9 malem dan karena ini malem minggu (ga ada hubungannya sih) gue langsung mandi trus bobo cantik di kamar karena ga ada yang ngajak jalan juga.

Kondangan jarak jauh selama 11 jam berakhir. Kalo ada yang kayak gini lagi gue beneran kirim kurir JNE aja hohohoho.

Bukit Kemuning, 19 Desember 2015

#Reader don’t know

image

ATM in love

Lama banget deh orang yang di dalem, dia ngapain sih?. Samar-samar kulihat sosok tinggi berbaju putih dibalik garis-garis kuning pintu ATM.

Pintu ATM terbuka…
Cowok itu jalan sambil menunduk. Kakak perempuanku masuk untuk mengambil uang di ATM. Aku berdiri di depan pintu, menunggu. Saat menoleh ke kiri aku melihat cowok tadi sedang sibuk dengan smartphonenya. Tiba2 dia mengangkat kepalanya.. tersenyum sekilas. YA TUHAN! Manis sekali, aku terlalu kaget dan tersenyum kikuk. Di depan kotak kaca bening itu.. rasanya aku ingin mengajak berkenalan atau sekedar bertukar pin tapi tanganku terlalu sibuk untuk mengambil smartphoneku. Sibuk? Tunggu… HEI !! Aku sedang menggendong balita umur satu setengah tahun. Duh bagaimana menjelaskannya ya. Ada tiga ratus dua puluh empat pikiran dalam kepalaku. Cowok itu selesai dengan smartphonenya, melipat struk ATM, mengangguk sekilas, berbalik dan menghilang di keramaian jalan. Duh!! Apa aku terlihat seperti mamah muda yang sedang menggoda brondong? Akh! Kenapa dia pergi secepat itu.

Pintu ATM terbuka..
Kakak perempuanku keluar dengan wajah lesu. “Kartunya ga bisa dipakai untuk transaksi, besok ke bank langsung aja”. Aku melihatnya dengan wajah yang tak kalah sendu. Tangan kakak perempuanku meraih balita dalam gendonganku. “Sini adek digendong bunda ya, kasian tante kayaknya capek”. Akh!!! Tuh kan.. coba saja dia mau menunggu lebih lama di depan ATM.

image

Sumber gambar: Google

Bandar Lampung
27 Oktober 2015 sekitar pukul 11.00 WIB